Sabtu, 28 Februari 2009
Sosial entrepreneur
Mungkin untuk negara yang jumlah persentasi kemiskinannya rendah (<1%),>10%) seperti Indonesia, social entrepreneur sama sekali tidak terbukti efektif untuk mengurangi jumlah penduduk miskin. Yang justru terbukti adalah orang (wirausaha sosial) yang sukses (?) dalam usahanya dengan mengeksploitasi kemiskinan itu sendiri. Kemiskinan dijadikan "komoditas" untuk mendapatkan proyek atau bantuan baik dari pemerintah maupun donor. But the poor still there.
Sebagai orang yang pernah 'miskin' (didefinisikan sebagai orang yang mempunyai tingkat keterbatasan yang jauh lebih besar dari tingkat keleluasaannya, atau dengan lain perkataan tidak memiliki 'kehendak bebas'), saya sangat yakin bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia bisa dikurangi atau bahkan dihapus sama sekali apabila kita (seluruh bangsa) mau memahami persoalan (keterbatasan) yang dihadapi oleh masyarakat miskin serta mempunyai keinginan yang tulus (political will) untuk membantu melepaskannya dari keterbatasan tersebut.
Program-program seperti subsidi pangan (pupuk, bibit, KUT), BLT dan stimulus berupa proyek padat karya pada hakekatnya justru melanggengkan kemiskinan itu sendiri.
Jumat, 27 Februari 2009
Kuliah Entrepreneurship
28 Nopember 2007 oleh Budi Rahardjo
Hari Selasa kemarin (27 November 2007), kelas Konsep Teknologi kami (6 kelas paralel) dan kelasnya pak Dwilarso dari Sekolah Bisnis dan Management ITB digabung di Aula Timur ITB. Ini merupakan sebuah sejarah karena kuliah dari mahasiswa teknik dan bisnis digabung menjadi satu! Lebih dari 400 mahasiswa ada di Aula Timur itu. Kuliah kali ini menghadirkan pak Buntoro untuk menceritakan tentang entrepreneurship.
Pak Buntoro ini adalah pimpinan dari perusahaan PT Mega Andalan Kalasan (MAK) yang meproduksi peralatan rumah sakit. Kompas edisi 14 November 2007 yang lalu memasukkan dia ke dalam 14 orang calon entrepreneur Indonesia 2007. Cerita (biografi) pak Buntoro ini ada dalah buku yang berjudul “Never Ending Journey”.
Pak Buntoro merupakan salah satu dari 11 entrepreneur yang masuk ke dalam calon pemenang Entrepreneur Award 2007. [Kemarin, tanggal 28 Nov 2007, telah diumumkan pemenangnya; yaitu pak Ciputra.]
Isi dari kuliah ini campur antara penjelasan dari pak Buntoro dan tanya jawab dengan mahasiswa. Banyak penjelasan dari pak Buntoro (dan saya) yang mungkin berbeda dengan buku teks atau buku yang pernah dibaca oleh mahasiswa. Berikut ini ada beberapa hal yang menarik.
Kegagalan. Bagi seorang entrepreneur, kegagalan adalah sebuah keniscayaan. Gagal di sini digunakan untuk bangkit kembali dan menambah pengalaman untuk mencapai hal yang lebih baik (lebih sempurna). Kegagalan bukanlah sebuah aib. Ini biasa. Nah, mumpung masih jadi mahasiswa (apalagi di tingkat awal), ada banyak waktu untuk melakukan eksperimen dan melewati kegagalan-kegagalan yang kecil. Mumpung masih muda.
Ketika ditanya kegagalan apa yang paling besar, pak Buntoro menjawab bahwa banyak “kegagalan” yang harus dilalui tetapi secara total tidak menjadi kegagalan. Jika diukur dari tolok ukur produktifitas, misalnya (sambil menunjukkan grafik), tetap menaik secara total. Jadi tidak ada yang terlalu masalah.
Kapitalisme dan keberpihakan kepada masyarakat. Ada mahasiswa yang bertanya bahwa entrepreneur itu terlalu kapitalis dan tidak berpihak kepada masyarakat. Apakah betul? Entrepreneur memang tidak bisa dipisahkan dengan kapitalis, tetapi entrepreneur yang sejati dia punya hati. Ketika dia membangun usahanya dia mulai dari bawah, beserta orang-orang kecil, dan terus hingga besar dia tidak lupa itu. Biasanya entrepreneur yang besar mulai dari kecil masih tetap mempunyai hati.
Ada mahasiswa yang mengatakan bahwa jangan khawatir dengan masalah sosial karena perusahaan besarpun punya CSR (Corporate Social Responsibility). Namun pak Buntoro tidak sepakat. Dia mengatakan bahwa dana CSR yang dikeluarkan oleh perusahaan besar itu lebih berupa “permen”. Dana yang dikeluarkan perusahaan kecil kepada masyarakat lebih memiliki nilai. (Ini berdasarakan persentase dari dana yang dikeluarkan dan aset / revenue dari perusahaan tersebut.) Jadi perusahaan kecil malah lebih bertanggung jawab kepada masyarakat.
Ada yang bertanya mengenai management profesional dan entrepreneurship. Pak Buntoro mengatakan bahwa entrepreneur tidak membutuhan management profesional, setidaknya pada taraf awal. Jika kita baru membuat sebuah usaha, tidak perlu kita buat direktur keuangan, atau direktur yang lainnya. Selama semuanya bisa ditangani sendiri, ya ditangani sendiri saja. Jika memang sudah membutuhkan bantuan dari orang lain, ya baru meminta bantuan.
Saya sendiri mengatakan bahwa ada beda seseorang yang entrepreneur dan profesional. Jika saya tiba-tiba diangkat menjadi direktur PT Indosat, misalnya, maka saya adalah seorang profesional bukan entrepreneur. Perusahaan sudah ada, saya tinggal menjalankannya. Mudah-mudahan jelas perbedaannya ya.
Entrepreneurship memang tidak wah. Pada kenyataannya memang demikian.
Saya sendiri dan pak Buntoro masih memiliki sebuah kompetisi, yaitu berlomba-lomba mensukseskan daerah masing-masing. Saya tetap mendorong dengan konsep BHTV di daerah Bandung Raya, pak Buntoro dengan konsepnya sendiri di daerah Yogya dan sekitarnya. Kami masih bertarung; berkompetisi dan berkolaborasi.
Masih ada banyak hal lain dalam catatan saya, namun sudah terlalu panjang dan saya agak terburu-buru. Lain kali saya ulas lagi. Berikut ini foto pak Buntoro dan pak Dwilarso setelah selesai kuliah.
Terima kasih kepada pak Buntoro yang mau hadir di kelas KonTek ini. Ini untuk ketiga kalinya pak Buntoro mengisi kelas kami.
Ditulis dalam Bisnis, Curhat, Pendidikan, Start-up, Teknologi Informasi, kuliah | & Komentar
28 Tanggapan ke “Kuliah Entrepreneurship”
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 8:15 am
atmo4th
salut untuk Pak Buntoro,,
juga dosen2 kontek.
tapi sound systemnya kurang jelas pak, tidak terdengar sampai ke belakang,,,
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 8:44 am guest
setuju dengan atmo4th
kuliah umum dengan topik yang menarik
sayangnya tidak ditopang dengan sound system yang baik
terima kasih untuk Bapak Buntoro..
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 9:24 am Zaki
wah kuliah Kontek skrg lebih menarik ya?
sekedar mencuri ilmu pak nih
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 10:08 am rendy
yah
ngga nge sms…
*padahal lagi nongkrong di kantor kuncoro :p*
Pak, saya duduk paling belakang, nggak kedengaran apa-apa ![]()
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 11:51 am denche
kurang ngerti…
coz ga ikut kuliahnya ![]()
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 11:52 am wordsaz
sama kurang ngerti juga
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 12:18 pm jamisten
kalau mahasiswa di PT lain juga dibekali entrepreneurship pasti mereka lebih mampu mencitakan peluang kerja daripada mencari kerja. setuju entrepreneurship “wajib” dikuasai mahasiswa..apalagi di jaman krisis seperti sekarang ini, good luck
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 1:37 pm dwi
Enterpreneur is the best
keknya jaman makin maju kuliah nya jg semakin baik..
bravo deh buat ITB, ini kemajuan yg cukup signifikan utk mata kulaih kontek di ITB, beda bgt ama jaman ku dulu yah ![]()
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 5:01 pm kabarihari
Duh saya ngga nemu matakuliah yang beginian dulu…menarik sekali pak, mudah-mudahan di kampus-kampus lain juga punya kuliah enterpreneurship seperti itu biar lulusannya ngga cuma bergerombol nyari lowongan dan nnggu panggilan kerja.
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 5:56 pm edratna
Setuju pak Budi, entrepreneurship memang awalnya menangani sendiri, tahu masalah detail perusahaan, membuat adm keuangan secara sederhana. Setelah perusahaan besar, baru membutuhkan manajer yang profesional.
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 7:30 pm picisan...
“Ketika ditanya kegagalan apa yang paling besar, pak Buntoro menjawab bahwa banyak “kegagalan” yang harus dilalui tetapi secara total tidak menjadi kegagalan. Jika diukur dari tolok ukur produktifitas, misalnya (sambil menunjukkan grafik), tetap menaik secara total. Jadi tidak ada yang terlalu masalah.”
Pak Budi, im agree with the above paragraph or the explaination given out by Pak Buntoro on “Kegagalan”, he really got it through.I remember one of the quotes.. it was once said by Seneca :
” Failure changes for the better, success for the worse “
- di/pada 28 Nopember 2007 pada 11:56 pm nuragus
Lholholho… Mega Andalan Kalasan?
Saya tahu Pak pabriknya. Dekat tempat KKN saya.
Wah, bonafide juga perusahaan itu sampai ke Bandung untuk memberi kuliah Enterpreneurship.
Padahal layout internalnya nggak begitu rapi lho pak pabriknya.
Tapi ya memang bagus pabrik itu. Banyak orang Kalasan yang kerja disitu.
Eh, by the way pak! Kalo nggak salah manajer IT nya mbak-mbak teknik fisika ITB ya. Seingat saya itu. Namanya lupa.
- di/pada 29 Nopember 2007 pada 12:12 am NuDe
Akan lebih hebat lagi, kalau seandainya ditopang dengan lab entrepreneurship, pendampingan, serta inkubatornya, sehingga dari sekian banyaknya lulusan, ada sekian persen yang berminat wirausaha dapat dibekali dan dipersenjatai lebih komplet lagi
- di/pada 29 Nopember 2007 pada 8:35 am Ibrahim Musa
Saya kira memeang sistem perkuliahan sekrang harus diubah, bukan saja di ITB. Mahasiswa disiapkan untuk menjadi entrepreneurs (wirausaha) bukan pencari kerja di kantoran. Ini bisa terjadi jika format perkuliahan 50% teori (tentang entrepreneurship dengan sistem magang) dan 50% lainnya kuliah tentang terori yang mendasari keteremapilah wirausaha, atau pendidikan profesional. Semoga gagasan ini dapat disebarluaskan untuk didiskusikan dan dilaksanakan. Wassalam, Ibrahim Musa
- di/pada 29 Nopember 2007 pada 8:04 pm djadja
Sepertinya memang kewirausahaan itu sesuai dengan Sunnah Nabi….
CMIIW…Setelah jadi pengggembala kambing (employee), beliau kemudian berdagang ke Syam (employeer)….
Nah ini mungkin bisa disispka dimata kuliah kewirausahaan tersebut….
Untuk sharing silahkan mampir di:
http://sardjana.multiply.com/journal/item/24/Kewirausahaan_Sosial
- di/pada 30 Nopember 2007 pada 6:15 pm fariddjunks
Loh?? Ternyata Pak Buntoro ngisi kuliah kontek lagi toh?? Pas jaman saya dulu juga (2005). Apakah materinya sama pak?? Pak Budi, saya mau nanya tentang masalah entrepreneurship yang baru saya rasain sekarang. Gimana caranya me-manage hutang? Hutang seperti apa sih yang tergolong sehat?
- di/pada 12 Desember 2007 pada 4:27 pm malvi
met kenal Pak Budi…
Bapak dosen di ITB ya? wah keren…
saya mantan mahasiswa universitas swasta di Surabaya, background pendidikan saya di bidang informatika dan manajemen (marketing)…
skrg sih bekerja sebagai AE di salah satu perusahaan IT di Surabaya
mo sedikit sharing nih…
jujur aja, selama ini saya masih mencari apa arti sebenarnya dari entrepreneurship…
sampai titik mana saya dapat dikatakan seorang entrepreneur…
dst…
artikel Bapak cukup memberikan inspirasi kepada saya, tetapi kok rasanya ada beberapa hal yang menurut saya kurang sesuai dengan apa yang selama ini saya pahami…
contohnya pernyataan ini:
“Saya sendiri mengatakan bahwa ada beda seseorang yang entrepreneur dan profesional. Jika saya tiba-tiba diangkat menjadi direktur PT Indosat, misalnya, maka saya adalah seorang profesional bukan entrepreneur. Perusahaan sudah ada, saya tinggal menjalankannya. Mudah-mudahan jelas perbedaannya ya”
menurut saya entrepreneur bukan hanya seseorang yang berhasil menciptakan suatu bidang/lapangan pekerjaan saja, tetapi orang yang bekerja di suatu perusahaan pun dapat juga dikatakan seorang entrepreneur…
itu semua tergantung dari bagaimana cara berpikir kita, cara bertindak kita, bagaimana mental kita, dan bagaimana jiwa kita…
memang akan menjadi lebih baik/ideal apabila seorang entrepreneur berhasil membuka/membuat lapangan pekerjaan…
tetapi menurut saya, seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan tetapi dia dapat bekerja dengan konsep entrepreneur, berjiwa entrepreneur, bertindak sebagai seorang entrepreneur, berpikir seperti seorang entrepreneur, dst dapat juga dikatakan bahwa orang tersebut adalah entrepreneur…
dalam studi saya di bidang manajemen, saya pernah meneliti mengenai Entrepreneurial Marketing, yang menurut saya para Entrepreneurial Marketer dapat juga dikatakan sebagai seorang entrepreneur…
bagaimana pendapat Bapak mengenai hal ini?
perkataan2 saya di atas itu memang pendapat saya pribadi sih, bisa salah bisa benar, toh saya juga bukan apa2…
jadi mohon maaf sebelumnya apabila ada yang menganggap pendapat saya menyesatkan…
hehehe
Anda tidak salah. Memang ada yang menggunakan “entrepreneur” sebagai kata sifat. Jadi bisa saja pimpinan perusahaan memiliki sifat entrepreneur (meskipun dia bukan seorang entrepreneur). Pernah terlihat sebuah buku yang judulnya seperti itu. (Sayangnya harganya mahal sehingga tidak saya beli. he he he.)
Saya sendiri tidak paham apa itu “entrepreneurial marketing” sehingga tidak bisa komentar apa-apa tentang itu. Rasanya kok bukan entrepreneur seperti yang saya maksudkan ya. Ini baru gut feeling saja.
entrepreneurship itu mirip sabar dan ikhlas.. indah dipandang tapi susah dijalankan.. hahaha.. *pengalaman pribadi*
- di/pada 23 Februari 2008 pada 8:21 pm Seorang ibu
Pak Budi, saya seorang pendidik di SMP dan SMA. Ingin memasukkan entrepreneurship ke dalam ke dalam kurikulum sekolah. Bagaimana ya bentuknya.
@seorang ibu, … hmm … belum terbayang olah saya bu. Maksudnya ibu adalah sebagai bagian pelajaran formal kan?
Kalau informal sih sudah kebayang, misalnya ibu bisa mengundang entrepreneur untuk menceritakan kesuksesan *DAN KEGAGALAN* mereka.
Setahu saya ada kuliah entrepreneurship di SBM (School of Business & Management) ITB. Mungkin bisa minta contohnya dari sana bu. Saya rasa mereka tidak keberatan untuk menjabarkan isinya.
Semoga sukses.
- di/pada 30 Agustus 2008 pada 2:36 pm miron djami
salut ama pak Buntoro,.
sukses terus,..
amin
- di/pada 12 Oktober 2008 pada 9:44 pm lindha
boleh ga minta arti perkata entrepreneurship soalnya mau dipake buat krj tugas.
bisakah saya mendapatkan modul tentang intisari praktis sikap entrepreneur sebagai pedoman bagi mahasiswa yang mau menjalankan usaha mandiri. terimaksih
Bisa lebih mandiri dengan sikap dan menjalankan konsep entrepreneur…, lebih tepat bagi masyarakat kita
Kamis, 26 Februari 2009
Urgensi Revolusi Industri di Indonesia
Suatu nilai nominal yang luar biasa besarnya.
Sayangnya, sekitar 50% sektor industri dikuasai oleh asing. Terutama pada sub sektor otomotif (Toyota, Honda, Mitsubishi, Yamaha dll), elektronik (Panasonic, Sharp, Samsung, Sanyo dll), konsumer non makanan (unilever, P&G dll).
Penguasaan oleh asing ini ditenggarai menjadi penyebab kemandegan pertumbuhan sektor industri yang berujung pada rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional.
Cina dan India mampu meraih pertumbuhan tinggi karena pertumbuhannya dimotori oleh sektor industri.
Jadi, tidak ada pilihan....mari bung...rebut penguasaan sektor industri....
Pertumbuhan sektor Industri tahun 2009 hanya ditargetkan sebesar 2,5%. Padahal target pertumbuhan ekonomi nasional ditargetkan sebesar 4,5%. Ini adalah tahun ketiga secara berturut-turut pertumbuhan sektor Industri berada dibawah pertumbuhan rata-rata nasional.
Artinya, peran sektor Industri dalam perekonomian Indonesia makin mengecil.
Kondisi tersebut semestinya membuat prihatin kita semua karena sektor industri adalah penyerap tenaga kerja yang paling efektif, yang dapat mengatasi pengangguran di Indonesia yang makin membengkak. Terutama pengangguran Tenaga Kerja terdidik.
Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan Mantan Gubernur BI, Burhanudin Abdullah beberapa waktu yang lalu menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini tidak berkwalitas karena tidak diikuti oleh penurunan tingkat pengangguran.
Pertumbuahan ekonomi tidak cukup untuk mengakomodasi tingkat pertumbuhan penduduk / tenaga kerja.
Kondisi tersebut di atas menggugah saya untuk mencoba menyadarkan dan membantu masyarakat untuk ikut berperan serta dalam kegiatan produktiv (industri) sehingga cita-cita menuju masyarakat yang adil dan makmur bisa terwujud.